Sukses di Bisnis Snack Melalui Pola Inti Plasma

Ida Widyastuti Sukses di Bisnis Snack Melalui Pola Inti Plasma


Ida Widyastuti adalah contoh wanita yang pantang menyerah. Setelah harus mengalah meninggalkan pekerjaan karena ikut suami (karyawan Astra) tugas ke luar kota, Ida tidak lantas menyerah menyandang predikat sebagai ibu rumah tangga.

Lahirnya sang buah hati juga tak menjadi penghalang baginya untuk merintis jalan menjadi wirausaha. "Jenuh sekali rasayan setelah hampir tiga tahun berdiam diri," ungkap Ida.

Didorong oleh rasa jenuh itu, suatu ketika Ida berkunjung ke rumah kerabatnya di Demak (Jawa Tengah). Ida sendiri tinggal di Sidoarjo (Jawa Timur). Ternyata, perjalanan dari Sidoarjo menuju Demak itulah yang mengubah jalan hidupnya. Di Demak, ia tertarik pada bisnis yang dikelola kerabatnya, yakni bisnis emping melinjo. "Pulang dari Demak, saya mencoba bisnis serupa di Sidoarjo," kata Ida mengenang.

Tahun 2001, Ida mulai menjajakan sendiri emping di Pasar Gedangan, Sidoarjo. Sambil menggendong putranya, Nabil Hilmi Dafa yang saat itu masih berusia 6 bulan, dia menawarkan ke toko-toko yang ada di pasar. Kualitas rasa dan harga yang terjangkau, membuat emping jualan Ida laris manis diserbu pedagang. "Hampir seluruh pasar tradisional di Sidoarjo beralih menjadi pelanggan saya," tutur Ida.

Kewalahan dengan permintaan pasar, Ida lantas bekerja sama dengan para petani di Demak. Dia mengajari cara produksi yang sesuai dengan kebutuhan pasar hingga memberikan modal kepada petani, dari semula bermodal Rp 600 ribu hingga lebih dari Rp 300 juta. Saat ini ada sekitar 150 petani emping binaan Ida di Demak.

Namun, malang bagi Ida. Ia ditipu oleh teman dekat suaminya hingga merugi Rp 300 juta. "Saya sangat sedih dan terpuruk karena kejadian itu," Ida mengaku. Lebih dari tiga bulan ia hanya meratapi nasib. Maklum, baginya jumlah tersebut sangat besar dan merupakan modal utamanya.

Ida bertekad untuk kembali bangkit. Dengan modal pinjaman dari teman-teman suaminya, ia menata kembali usahanya. Tak sampai satu tahun, usahanya sudah kembali normal. "Makanya merek yang pertama kali saya luncurkan adalah Kawanku. Karena sejarah bangkit saya berasal dari kebaikan kawan-kawan Mas Haris (suaminya-Red) yang turut mendukung permodalan," katanya.

Melihat usahanya kembali berkembang, Ida mengajak suaminya ikut bergabung. Menurutnya, usaha ini akan semakin berkembang jika suaminya bergabung. "Saya perempuan, punya banyak keterbatasan. Itu bisa ditutupi jika suami saya bergabung di bisnis ini," ujarnya. Sayang, Haris sang suami tak jua tertarik.

Sampai suatu ketika, Haris kembali dipindahtugaskan ke Jakarta. Merasa sudah betah di Sidoarjo, Ida enggan ikut suaminya. Malah dia kembali mengajak kembali suaminya bergabung mengurus bisnis tersebut. Akhirnya, Haris memutuskan berhenti dari pekerjaannya dan bertekad membesarkan bisnis yang sudah dirintis oleh istrinya itu.

Walau bisnis empingnya tengah booming, Ida tidak lantas berpuas diri. Dia menyebutkan, bisnis emping sangat rawan karena punya efek samping terhadap kesehatan. Ia pun berpikir bagaimana menemukan produk baru untuk bertahan dan berkembang. "Karena sudah terbiasa main snack curah, kami fokus mencari pemasok snack," ujarnya. Sayang, upaya Ida dan Haris mendekati pabrik-pabrik snack besar di Bandung tidak mendapat respons yang baik.

Ida tidak pantah arang. Ia lantas mengalihkan fokus ke produsen snack tradisional. Mereka pun bergerilya ke berbagai daerah, mulai dari Bandung, Cianjur, Indramayu, Kuningan, Ciamis hingga Cirebon. " Kalau sudah mencicipi dan menemukan camilan yang enak, langkah selanjutnya mencari informasi produsen dari toko yang menjualnya," ujar Ida.
Kalau tak mendapat informasi, mereka menghubungi Dinas Kesehatan daerah setempat untuk hunting lokasi produsen camilan tersebut. Selama hampir dua tahun pasangan suami istri ini mencari produsen camilan di seluruh Pulau Jawa.

Selain berusaha untuk mengetahui proses produksi, Ida juga berusaha menawarkan kerja sama dengan produsen skala usaha kecil mikro (UKM) tersebut. Dengan cara seperti itu, Ida mampu mengumpulkan sekitar 50 UKM. Bersama dengan itu, Ida atas saran eyangnya mengubah merek Kawanku menjadi Mekarsari. Filosofinya adalah agar usaha terus mekar. Simbol bunga pun dibuat dengan mengandung arti khusus. Kelopak berjumlah 9 dianggap tertinggi dan nyaris sempurna. Tanda panah ke atas diharapkan usaha terus menanjak.

Tahun 2005, Mekarsari berkembang pesat dan merambah luar pulau. Tak kurang dari 200 item snack yang dikirm setiap minggu ke berbagai daerah. Ida menyebutkan, saat ini setiap minggu ia mengirim ke Bali (1 truk), Mataram (2 truk), Kalimantan (28 boks), Jawa Tengah (1 truk), dan Jakarta (1 truk).

"Itu sebenarnya belum sesuai dengan permintaan, karena produksi kami memang masih terbatas," ujar Ida seraya menambahkan, ia terus mengembangkan UKM-UKM pilihan yang mau bekerja sama.

Kini, snack Mekarsari sudah berhasil menembus pasar mancanegara, Hongkong, Brunei, dan Amerika Serikat.

Sumber: Majalah Swa edisi 12-25 April 2012 halaman 65-66

 

 

 

 

© 2012 Mekarsari Snack. All Rights Reserved. Powered by Web Design Development Surabaya.