Snack Pisang Kompetisi dengan Snack Kacang dan Kentang

Pendidikan bukan menjadi penghalang untuk sukses. Mungkin kata itu yang cocok untuk menggambarkan kesuksesan Ida Widyastuti. Meski hanya lulus SMA, tapi tidak menghalanginya untuk menjadi pengusaha camilan tradisional yang sukses.

Ida yang memulai usahanya tahun ini berhasil sukses meraih penghargaan Ernst & Young beberapa bulan lalu sebagai sosok wanita inspiratif. Majalah Femina juga menobatkan dirinya sebagai sosok wanita inspiratif.

Ida adalah pemilik Roemah Snack Mekarsari, Sidoarjo. Saat ini, dia menjajakan opak pisang dan keripik pisang beserta hampir dari 100 jenis camilan lain.

Roemah Snack Mekarsari sendiri, menurut Ida, selain mempunyai produk utama juga menjadi alat pemasaran bagi para usaha kecil dan menengah (UKM) yang bisa melakukan pemasaran dan promosi bersama.

"Jadi, kami membantu mereka untuk mempromosikan, memberitahu bagaimana cara pengemasan dan membantu penjualannya," ujar Ida.

Produk unggulan Roemah Snack saat ini berupa opak dan keripik pisang, Kedua snack itu sudah menyebar di Tanah Air bahkan mancanegara. Bahkan snack berbahan baku pisang ini berkompetisi dengan snack berbahan baku kacang dan kentang.

"Pasar penganan berbahan baku pisang belum tersedia di pasar lokal dan internasional. Yang paling banyak diminati oleh konsumen selama ini adalah kacang atau kentang. Cita rasa konsumen harus didobrak dengan snack alternatif, yakni snack pisang. Ternyata, respon pasar cukup tinggi dengan snack pisang," ujar Ida Widyastuti.

Opak dan keripik pisang Mekar Sari sejak awal tahun ini memasar di Singapura, Malaysia, Philipina, China, bahkan ke Arab Saudi. Menurut Ida, cita rasa snack orang mancanegara tak jauh beda dengan cita rasa orang Indonesia.

Tiap hari, rumah produksi Mekarsari di Trenggalek membutuhkan pasokan 10 ton pisang agung untuk produksi opak dan keripik pisang. Rumah produksi itu mempekerjakan 80 karyawan warga setempat. Sedangkan bahan baku pisang agung didapat dari pasokan petani di Trenggalek dan Tulungagung. Para petani menanamnya di atas lahan nonproduktif seluas 200 hektare.

"Saat ini, di setiap kota Indonesia saya rasa produk kami telah masuk. Bahkan, di Bali, Kalimantan, dan Sulawesi, 80 persen dari camilannya berasal dari Mekarsari," kata Ida.

Namun, ketika ditanya berapa omzetnya per bulan, Ida mengaku tidak bisa menyebutkannya. "Indikatornya mungkin dilihat dari bahan baku pisang agung yang kami pakai. Per hari kami bisa menghabiskan 10 ton pisang per hari," ungkap Ida.

© 2012 Mekarsari Snack. All Rights Reserved. Powered by Web Design Development Surabaya.